CEO Microsoft, Satya Nadella, menyatakan keprihatinannya atas maraknya gambar palsu Taylor Swift yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI) yang mengandung unsur seksual. Dalam sebuah wawancara dengan NBC Nightly News, Nadella menggambarkan situasi ini sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan dan mengerikan, dan menekankan perlunya tindakan cepat. Meskipun ia mengakui pentingnya menerapkan pagar pembatas di sekitar teknologi AI untuk memastikan produksi konten yang lebih aman, ia juga menyoroti pentingnya norma-norma masyarakat global dan kolaborasi antara penegak hukum dan platform teknologi. Ada dugaan bahwa gambar-gambar Swift palsu tersebut mungkin berasal dari komunitas pembuat konten porno tanpa persetujuan yang menggunakan generator gambar Designer milik Microsoft. Namun, mengatasi masalah ini lebih dari sekadar memperkuat pagar perusahaan, karena alat bantu AI telah mempermudah pembuatan gambar-gambar telanjang palsu dari orang sungguhan. Mengontrol produksi mereka sangat rumit, dan bahkan jika platform teknologi utama diamankan, alat terbuka masih dapat dimanipulasi. Nadella mengisyaratkan perlunya perubahan sosial dan politik yang lebih luas, namun saat ini belum ada solusi yang jelas yang dapat dilakukan oleh Microsoft. Sementara anggota parlemen dan penegak hukum bergulat dengan masalah ini, langkah-langkah sementara seperti membatasi jangkauan citra non-konsensual atau main hakim sendiri telah disarankan. Untuk saat ini, fokus utama Nadella adalah meningkatkan praktik AI Microsoft sendiri.
