OpenAI telah mengumumkan kemitraan dengan Anduril, sebuah perusahaan rintisan di bidang pertahanan, untuk meningkatkan sistem pertahanan udara militer Amerika Serikat dengan menggunakan teknologi AI. Kolaborasi ini mencerminkan tren yang berkembang di antara perusahaan teknologi Silicon Valley untuk terlibat dalam industri pertahanan, terutama setelah ketegangan geopolitik seperti invasi Rusia ke Ukraina. CEO OpenAI, Sam Altman, menekankan pentingnya memastikan bahwa teknologi AI menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan bermanfaat bagi masyarakat. CEO Anduril, Brian Schimpf, menyatakan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan solusi yang bertanggung jawab bagi operator militer untuk mengambil keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam situasi kritis.
Model OpenAI akan membantu menilai ancaman drone secara lebih efektif, membantu operator dalam pengambilan keputusan dengan tetap menjaga keselamatan. Perusahaan baru-baru ini merevisi kebijakannya terkait aplikasi militer AI-nya, menyebabkan beberapa ketidakpuasan internal tetapi tidak ada protes yang signifikan. Anduril sedang mengerjakan sistem pertahanan udara canggih yang memanfaatkan model bahasa besar untuk menafsirkan perintah untuk drone otonom, meskipun saat ini mengandalkan model sumber terbuka untuk pengujian. Pergeseran sikap terhadap kolaborasi militer di antara perusahaan teknologi juga terlihat jelas, seperti yang terlihat pada perusahaan lain seperti Anthropic dan Meta yang membentuk kemitraan serupa. Altman meyakinkan bahwa teknologi OpenAI akan digunakan secara bertanggung jawab untuk melindungi personel militer dan meningkatkan keamanan nasional.
