Bangkitnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mendorong terciptanya peran eksekutif baru di berbagai industri. Perusahaan seperti Mayo Clinic, Equifax, dan Ashley Furniture telah menunjuk kepala eksekutif A.I. untuk menavigasi dan memanfaatkan potensi teknologi yang mengganggu ini. Permintaan untuk eksekutif A.I. telah melonjak, dengan lebih dari 400 departemen dan lembaga federal mencari peran ini untuk mematuhi perintah eksekutif Presiden Biden. Tujuannya adalah untuk memanfaatkan A.I. untuk mengubah organisasi sekaligus meningkatkan citra mereka. Serupa dengan kemunculan chief information officer dan chief data officer sebagai respons terhadap kemajuan teknologi, eksekutif A.I. ditugaskan untuk mengelola risiko dan peluang yang terkait dengan A.I. Perusahaan seperti Florida Blue dan Accenture juga telah menciptakan posisi eksekutif A.I. untuk mendorong inovasi dan memasukkan A.I. ke dalam operasi mereka. Namun, beberapa ahli memperingatkan bahwa laju perkembangan A.I. yang cepat dapat melampaui peran-peran ini. Namun demikian, para eksekutif A.I. percaya bahwa posisi mereka sangat penting untuk menjembatani kesenjangan dalam industri seperti perawatan kesehatan dan meningkatkan efisiensi melalui integrasi A.I. Pada akhirnya, A.I. diharapkan dapat mendarah daging dalam berbagai peran pekerjaan, yang berpotensi membuat jabatan A.I. tertentu menjadi usang.
